kekosongan pikir

telah lama kekosongan pikir ini terjadi... beralas pembenaran kekhawatiran akan pengulangan, maka pikir itu membeku bisu. tak banyak lagu, dibandung ragu.

telah dalam kekosongan pikir ini terjadi... berurai penguatan alur waktu terperlu, maka pikir itu diam terpendam. tak cukup kelam, ia tenggelam dalam sekam.

telah merusak kekosongan pikir ini terjadi... beruntai perlindungan nyata diri hanya manusia, maka pikir itu cerai terberai. tak cukup berani, ia berangsur mati.

tak lagi bisa aku izinkan ia lama berpergi, dalam mencari dan rusak merugi...

kekosongan pikir ini harus berakhir di sini. biar ia mati dengan suatu pasti yang maknawi.

                            

pertanyaan tentang masa depan

heran... sungguh heran... akhir-akhir ini muncul pertanyaan-pertanyaan itu... yang mereka ajukan ke saya: mengapa kamu lakukan itu, atau mengapa kamu berani megambil keputusan itu.....

pertanyaan-pertanyaan yang sungguh aku dapati sebenarnya mereka ajukan bagi diri mereka sendiri.... untuk keragu-raguan yang mereka hadapi sedari dini.... atas kebimbangan yang merajai dalam hati...

setiap kali aku berikan jawab: karena saya MAU, karena saya PERLU dan saya yakin saya BISA, maka kemudian mereka akan menganggukkan kepala, tampak berupaya memafhumkan diri mereka sendiri...

maka saya ingin sampaikan pada mereka: masa depan tidak untuk dicari, karena ia tidak berupa kepingan yang terserak di jalanan. masa depan kamu, adalah untuk kamu ciptakan sendiri...

tidak ada satupun yang menjanjikan bahwa hal itu akan mudah untuk dijalani, oleh karena itu jadikanlah hal itu lebih mudah untuk dilewati. setidaknya lebih mudah untuk kamu. TETAPkan tujuanmu, LENGKAPkan usahamu, dan raih keBERHASILanmu....

dari kamu, oleh kamu, untuk kamu.... ada alasannya Tuhan beri kita akal kan?

akhir seroja

tidak pernah satu kejappun
aku berharap seroja akan kembali
pada rengkuh dan naungan illahi

kecuali untuk waktu yang panjang
dan selayaknya usia menanti

tidak pernah satu detikpun
aku beringin seroja akan berpergi
dari nafas dan jalan fana ini

kecuali dalam rentang yang biasa
serta umumnya detak menari

namun berjuta kejap dan detik berlintas
seroja akan tetap hidup dalam angan dan cita
seroja akan selalu ada seiring ingin dan asa
dan ia akan bersahaja bahagia di sisi-Nya

---
lebih tiga minggu dari perginya seroja yang tak pernah bersama namun di hati selalu ada

kekasih hatiku

adalah kamu
kekasih hatiku, yang berikanku nafas terbaru di setiap pagiku

adalah kamu
kekasih hatiku, yang berikanku langkah terbaru di setiap arahku

adalah kamu
kekasih hatiku, yang berikanku kelepak terbaru di setiap anganku

adalah kamu
kekasih hatiku, yang berikanku warna terbaru di setiap hidupku

adalah kamu
dan aku

cerita impian indah

ia duduk rapi berbagi ceritanya
mengenai impian untuk diraih nantinya
untuk rasa indah dan bahagia

cerita tentang penantian tiada ujung
impian tentang pengharapan agar disanjung
indahnya tentang kehidupan yang agung

namun cerita tinggallah kata
hingga impian tersisa hampa
nanti indah terbuang sia

ia duduk lagi kini
tak seperti dulu yang rapi
karna nafas terakhir telah pergi

rapuh

sungguh,
kelepak ini tak sekuat setampaknya sekelebatan semua mata
ia hanya gagah berkesan, namun ringkih berdebu sejatinya
ia hanya kokoh bersohor, namun kosong berangin tengahnya

rapuh,
kelepak ini benar serapuh angin terlempar olehnya
serapuh debu yang terhantar di bawahnya
serapuh angan yang tercipta atasnya

kelepak ini adalah cintaku

untukmu

kegelisahan

kegelisahan ini
adalah suatu tanda
yang berada dalam jiwa

kerisauan ini
adalah suatu paksa
yang menyesak menyeruak duka

kebimbangan ini
adalah suatu siksa
yang menjatuhkan daya upaya

adakah bila
jika gelisah itu musnah

tadi

tadi ada ia datang
tiba-tiba
merengkuh dan merayu
dalam di kedalaman hati sedalam kalbu
jauh di kejauhan angan sejauh mimpi

tak pernah pahamkan aku
mengapa ia datang sebegitunya
setiba-tiba
serengkuh
dan serayu

tadi ada ia melontar
tiba-tiba
mencerca dan sakiti
luka di terlukanya ingin seluka harap
sayat di tersayatnya sayang sesayat cinta

tak pernah dugakan aku
mengapa ia melontar sebegitunya
setiba-tiba
secerca
dan sesakit

tadi

pagi ini

pagi ini kembali aku mendengar suara indahnya
bersenandung pekak mengusik tentramnya jiwa
namun tak jadi asa karena aku suka

hari ini senandungnya sengau meracau saja
melelehkan kebencian yang tak terpana
mencairkan kebaikan yang lama terjaga

adakah menjadi seorang pecinta, hina?
atau haruskah bersenggama hormat, diterima?

pagi ini kembali aku berbicara
di tengah rengekan dan siksaan cinta

hanya karena aku sayang padanya

130206

Bangku, Sofa Biru dan Sekotak Rokok (end)

Bangku, Sofa Biru dan Sekotak Rokok. Dua puluh tahun sesudahnya.

Dewa:

Tidak pernah sekalipun mereka menjawab pertanyaanku atas tiga lukisan yang terpasang di kamarku sejak aku kecil. Bangku kayu yang kosong, Sofa Biru yang tidak dihuni dan Sekotak Rokok yang tersegel. Mereka selalu tersenyum dan berkata bahwa pada saatnya nanti aku akan bertemu dengan orang yang memberi tiga hal itu. Tiga hal dan nama untukku delapan belas tahun yang lalu.

Malang, 25 Oktober 2006